Minggu, 25 Januari 2009

Positive Thinking

Punten, lagi pengen ganti gaya bahasa....
maap kalo ada yang ga suka..

Kenapa sih nilai fisika saya cuma dapet bebek lagi?
Kenapa sih rangking saya jeblog lagi?

Kenapa sih nilai Try Out Nu*ul F*kr* nya ke seribu lagi?

Kenapa....

Kenapa....

Kenapa, oh, kenapa....

Mungkin Allah udah ga sayang lagi....

Kawan, pernah ga punya pikiran jorok kayak di atas? Pasti pernah dong. Apalagi pas kelas tiga ini. Pasti ada aja perasaan ingin menjadikan orang lain sebagai black goat atas kesalahan diri sendiri. Nilai kita yang jelek, nyalahin gurunya. Nilai TO ancur, nyalahin scanner-nya. Rangking terjun bebas, bilangnya gara-gara ada temen yang super jenius di kelas (haha..sayah pisan pas kelas 2!!!).

Dan parahnya, nih, bukan parah lagi malah, tapi udah sangat-amat-super-edan-sekali, lama-lama kita menyalahkan sang Khaliq atas ketidakbecusan diri kita sendiri. Istilah-istilah ga sayang lagi, ga adil, ga merhatiin, (naudzubillah) meluncur deras bak hujan badai di lautan biru (alah-alah, eta bahasa!) dari mulut kita yang semakin hitam karena kata-kata konyol. Astaghfirullah, betapa besar dosa kita karena udah suudzan sama Allah, pencipta kita. Padahal, sejak kecil kita udah diajari sama orangtua, ustadz/ustadzah, guruSD, guruSMP, Pak Deding,Bu Odja,Bu Sa’adah,Pa Dadang, dan lain-lain bahwa Allah itu Maha Sempurna. Padahal saban kali kita solat, tiap kali kita berdoa, kita hampir selalu menyebut Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang udah jelas-jelas (kecuali bagi yang baru tahu...) artinya Maha Penyayang dan Maha Pengasih. Padahal di halaman paling depan dan belakang Al-Qur’an yang selalu menjadi pedoman dan peta jalan kehidupan kita udah jelas terpampang 99 nama Allah yang Paling Baik. Nah, baru sadar kan, betapa cupu nya kita karena berbuat seperti itu. Astaghfirullahal adzim....

Jika dipikir-pikir, betapa sombongnya diri ini karena tidak mau mengakui bahwa hasil jelek yang kita dapat itu berasal dari perbuatan kita sendiri. Mari kita introspeksi diri. Benarkah bahwa nilai bebek itu gara-gara gurunya jelek atau malah karena kita yang kaya bebek (maksudnya lemot n ga merhatiin-red)? Bener ga c bahwa scanner Nu*ul F*kri itu rusak, atau emang fikiran kita aja yang lagi nge-hank? Bener ga c rangking kita yang terjun gara-gara ada temen-temen supergenius atau emang kitanya yang emang ga ada usaha untuk jadi genius juga (si Fajar CYP mah emang jenius pisan! Hehe—pembelaan)?

Nah itu dia..Sekarang, ngaku! Pas mau ulangan, belajar atau ngga? Pas mau TO, ngerjain soal-soal dulu ngga? Ngga kan? Ngga kan? Makanya nilainya jelek....(hiks, ini bener2 nyindir diri sendiri). So, jangan nyalahin diri orang laen kalo dapat susah, introspeksi dulu, lur....

Ada sebuah cerita dari zaman sahabat dulu. Waktu itu, (saya lupa khalifahnya siapa dan lagi perang apa) pasukan muslimin berperang melawan kaum kafirin. Secara statistik, pasukan muslim dapat menang. Namun, perkiraan hanyalah perkiraan. Ternyata meleset, Bung. Para mujahid terkena pukulan telak. Hampir saja mereka kalah. Lalu sang komandan pasukan memanggil para bala tentaranya. Dia bukannya menyalahkan pasukannya. Dia tidak berburuk sangka kepada pasukannya, apalagi kepada Allah. Dia hanya bertanya satu hal.

“Pasukanku, apakah ada di antara kita ada yang telah meninggalkan ibadah sunnah kita kepada Allah?”

Subhanallah! Betapa beliau berpikiran sangat +! Beliau tidak menanyakan tentang persediaan senjata, tidak pula strategi, karena itu dirasa sudah cukup. Tetapi, beliau mengintrospeksi dirinya dan pasukannya.

“Bagaimana dengan tahajjud?” tanyanya lagi. Para mujahid menjawab selalu rutin melaksanakannya.

“Bagaimana dengan shaum sunnah?” baliau bertanya lagi. Untuk kedua kalinya, pasukannya menjawab sudah melaksanakannya. Beliau bertanya tentang beberapa amalan lainnya, tetapi ternyata semua sudah dilaksanakan. Sang Komandan sangat bingung. Amalan apa yang belum mereka kerjakan. Lalu tiba-tiba....

“Komandan! Kita belum berSIWAK (yang mau ke UI jangan gr! Itu mah SIMAK)!” jerit seorang prajurit. Masya Allah! Ternyata amalan yang belum terlaksana adalah bersiwak! Bayangkan, saudara pendengar! Bersiwak, atau yang nama trivialnya sikat gigilah amalan yang belum dilaksanakan. Kontan, sang komandan memerintahkan seluruh pasukan untuk mencari kayu siwak, lalu bersiwak berjamaah.

Ternyata, nun jauh di sana, seorang intel kafir melihat hal ini. Dia mengira kaum muslimin sedang mengasah giginya. Dia sangat takut dan melaporkan ini ke pasukannya. Akhirnya, kaum muslimin meraih poin 3 alias menang.

Lihatlah, kawan! Kekuatan yang namanya Pikiran Positif itu sangat besar. Terlihat jelas bahwa husnudzan mampu mengalahkan suudzan. Si intel kafir udah suudzan karena mengira pasukan muslim mengasah gigi dan hendak memakan mereka (anya-anya wae...hahaha). Jadilah mereka keok....

Teman, pernah nonton pelem Bruce Almigthy ga? Kocak banget lahhh si Jim Carrey. Di awal film, terlihat si Bruce sangat sial dalam menjalani hidupnya. Kabayang teu sih kalo tiap detik kita ditimpa kesialan. Kira-kira yang kita lakuin kaya si Bruce ngga yah? Semoga jangan lah..soalnya dia malah memaki-maki Tuhan karena kesialannya itu. Bahkan kata-katanya tidak pantas untuk didengar sekalipun sama orang tua..(tapi ekspresinya bagus, jadi lucu...). Pokoknya, Bruce bener-bener udah kelewat suudzan sama Tuhan. Sisa ceritanya, mending tonton sendiri, tapi jangan ditiru...

Beberapa minggu kemarin, saya ikut mentoring singkat. Isinya sangat menusuk sekali (saya rada ga merhatiin sih, jadi ditusuk..hahaha). Intinya, Si Akang Mentor (kita sebut dengan SAM) berkata bahwa segala hal yang selalu kita sebut dengan ‘musibah’ pada hakikatnya adalah suatu nikmat juga. Pusing? Aneh? “Hmm, analoginya gini aja,” kata SAM, “haus itu nikmat ngga?”

Saya jawab, “Ngga, SAM.” SAM nanya lagi, “Kita minum kalo kita sedang kaya gimana?”

Saya jawab, “Kalo lagi haus, SAM!”. Terus SAM nanya lagi, “Nikmat ga?”

Saya jawab lagi, “Nikmat, SAM.”

“Nah, kalo misalnya kita ga haus, kita minum ga?”

“Ngga,”

“Terus gimana kalo kita ga pernah ngerasain haus?”

“Ya ngga minum-minum,”

“Ngga nikmat dong?”

“Iya.”

“Jadi?”

“Hah?”

“Kesimpulannya?”

“Hah?”

“Sebenernya kamu merhatiin ga sih?” kata SAM rada keras. Saya langsung kaget. Sebenernya dari tadi saya lagi ngebayangin nikmatnya minum sop buah di bazaar, hehehe.

SAM rada kesel. “Intinya gini, dan. Kita analogikan bahwa haus itu adalah suatu musibah. Tetapi, dengan haus itu, kita bisa merasakan nikmat besar saat minum. Kalo kita ga pernah haus, ya ngga akan nikmat. Malah menderita, soalnya ga mau minum, padahal tubuh butuh minum. Serba salah kan? Di balik semua musibah, pada hakekatnya, Allah udah nyimpen banyak file-file nikmat untuk kita. Tergantung gimana cara kita untuk membukanya. Kalo ekstensi nikmatnya berupa jpg, ya tentu aja kita buka pake ACDSee. Kalo ekstensinya berupa doc, bukanya harus pake word. Ngerti?”

Nah, kawan? Ngerti kan? Seperti dalam Surat Al Insyirah ayat 5-6, Allah berfirman (ditegaskan sampai 2 kali) bahwa:

“Maka sesungguhnya bersama KESULITAN ada KEMUDAHAN. Sesungguhnya bersama KESULITAN ada KEMUDAHAN.”

Liat kan? Allah udah berfirman bahwa di balik semua kesulitan itu ada kemudahan, masa kita mau tetep suudzan? Kesulitan itu diberikan untuk menguji kita, lur. Nah, kalo kita bisa melaluinya dengan tawakkal dan istiqamah, insya Allah, kita akan menemukan sebuah kado istimewa dari Allah di balik pintu terakhir kesulitan itu. Mulai sekarang, mari kita tetep percaya bahwa kita tuh punya backing-an yang sangat super, yaitu Allah. Sekalinya kita mendapat sebuah musibah (alias nikmat tersembunyi), pikirin tanda + yang besar. Bahwa sebenernya Allah ngasih ujian itu untuk memberikan kado indah, tetapi didahului dengan ujian untuk melihat apakah kita pantas mendapatkannya.

Jadi, coba bayangin kalo kita ga lulus SNMPTN atau tes-tesan laen (jangan sampe deh!). Ayo kita persiapkan diri kita untuk berpikir positif bahwa Allah memutuskan sesuatu untuk yang terbaik bagi kita. Karena Allah lebih tahu. Siapa tahu kita ga lulus ke FK UI tapi ternyata malah keterima di Sorbonne (hehe, lagi-lagi kahayang saya...).

The conclusions are :

1. Kalo dapet masalah, ayo introspeksi...cari kesalahan pada diri kita yang harus diperbaiki, bukan cari di orang lain.

2. Inget-inget lagi Surah Al-Insyirah ayat 5-6...

3. Yang menurut kita terbaik buat, belum tentu menurut Allah itu yang terbaik. Allah Maha Mengetahui.

4. Balik lagi ke zaman sahabat! Renungkan bagaimana para sahabat menghubungkan kegagalan mereka dengan habluminallah, alias hubungan kepada Allah. Maksudnya, cobalah untuk sedekat mungkin sama Allah. Kegagalan kita bisa aja terjadi gara-gara kita kebanyakan maksiat dan kurang deket sama Pencipta kita.

5. Bersyukur. Ngerti kan, bersyukur mah?

Terakhir, saya dapet lagu bagus kemaren (kata si ghifi mah udah jadul). Tapi bae ah..nu penting bagus.

Give Thanks To Allah

Give thanks to Allah

For the moon and the stars

Prays in all day full

What is and what was

Took hold of your iman

Don’t givin’ to syaitan

Oh, you who believe please give thanks to Allah

Allahu Ghofur, Allahu Rahim

Allahu yuhibbul mukhsinin

Wa khaliquna, wa raziquna

Wahua ‘alla kulli syai’in qadir

Allah is Ghofur, Allah is Rhaim

Allah is the one who loves the mukhsinin

Allah is a creator, Allah is a sistainer

And He is The One who has power over all

Sabtu, 24 Januari 2009

Pemuda Palestina

Tiada kusesal berdiri di tepian jalan
Walau hanya batu, senjataku melawan engkau
Ini negeriku, dan kami pantas berontak
Perang takkan usai sampai PALESTINA mulia

Kusadari..
Sebiadab apa dirimu
dan kau perlu tahu
ada ALLAH di atas sana

Aku kencang berlari..
Biar kuhadang dengan apa yang kupunya
Bunuh saja tubuh ini..
Biar ku syahid, itu mati yang mulia
Barisan kami..
PEMUDA PALESTINA

Mimpi jika engkau berharap kami berhenti
Perang takkan usai sampai PALESTINA mulia

Tanah suci ini..
kelak akan menjadi saksi
saat kau terima KEHANCURAN bertubi-tubi..

Aku kencang berlari..
Biar kuhadang dengan apa yang kupunya
Bunuh saja tubuh ini..
Biar ku syahid, itu mati yang mulia
Barisan kami..
PEMUDA PALESTINA
PEMUDA PALESTINA


~edcoustic~

Kata Dia Kepadaku

Usah kau tersedu, adikku
Jangan kau menangis seperti itu
Karena suratmu di siang hari
akan Tuhan balas di malam sunyi
dengan keajaiban

Tak perlu terisak lagi, adik kecil
Seka air mata sucimu
Karena Dia sudah tahu semua ini
Karena Dia selalu mengerti
dan telah menunggumu dengan senyuman
dengan keajaiban

Jika sungai telah kering,
matahari sudah sembunyi,
bayi kucing merengek, menyapa bumi,
kelelawar membuka mata,
maka jemput aku di batas kota,
nyanyikan sebuah dendang,
lalu ceritakan semuanya
Termasuk tentang letih yang menguap di matamu,
tentang syair di wajahmu,
dan riak tawa dari hatimu.

Dunia

dunia
ingin kucongkel matamu
biar buta saja
tak mencuri pandang padaku

dunia
mau kulahap otakmu
biar mati rasa
biar tak tahu apa itu rasa
lalu mati

bangsat!
biarkan aku sendiri!
tak sudi kau peduli
biar aku sendiri!
menangisi hati yang nyaris mati
nyaris

dunia
ingin kupeluk dirimu
kubawa sampai sorga

Selasa, 21 Oktober 2008

Putri yang Menunduk

Mimosa pudica. Pernahkah anda melihat spesies ini? Menakjubkan, ya aku bilang menakjubkan dan ajaib. Sejak kecil, aku senang bermain dengannya. Kadang, kujahili dia dengan sebatang lidi atau kusentuh dia dengan jari-jariku yang kotor penuh lumpur. Setelah aku bermain bola atau bermain layangan di lapangan, tak lupa kukunjungi dia dan menyapanya. Jika terlalu sering kujahili, dia sering marah dan membuat jari dan betisku terluka terkena tangannya yang tajam sehingga membuatku menangis dan melaporkannya pada Ibu. Tetapi setelah itu, aku selalu kembali dan bermain dengannya lagi.



Kadang dia kupanggil dengan sebutan putri saja. Sampai sekarang aku masih menyimpan kenangan dengannya. Waktu SMP, aku juga sering menjumpainya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku tentang masalah Biologi, tentu saja yang berhubungan dengan dirinya. Karena keterpaksaan melaksanakan tugas dari guruku, aku sampai tega mendekatkan bara api ke tubuhnya yang lembut sampai ia berteriak dan menunduk dalam-dalam. Butuh beberapa lama untuknya kembali percaya diri mengangkat kepalanya dan aku harus meminta maaf dengan tulus untuk itu.


Dulu, aku sering menjumpainya dimana-mana. Di ladang kakekku, di kebun tetangga, di pinggir lapangan bola, di kavling-kavling perumahan yang belum terpakai, di pinggir selokan, di sebelah pohon jambu, di bukit, di gunung, di halaman rumah orang lain, di pematang-pematang sawah, di kuburan sekeliling rumahku, di pinggir jalan raya desaku. Tetapi, dimana dia sekarang, aku tidak tahu. Entah karena kesibukan sekolahku atau karena dia marah padaku, kami jarang bertemu lagi. Atau jangan-jangan, dia sudah tak ada lagi di sekitar kehidupanku.



Semua orang menyebutnya dengan panggilan putri malu. Bukan karena wajahnya yang buruk atau karena kelakuannya yang memalukan dia mendapat sebutan seperti itu. Anda tahu bukan? Jika dia disentuh, maka dia akan menunduk dalam-dalam. Dia akan menanggapi respon sentuhan kita dengan menutup daunnya yang bercabang-cabang. Sebuah ciri kehidupan yang alami dan ajaib. Sunatullah yang telah diberikan kepadanya, yang dengan bangga ditunjukkan kepada dunia. Dia seakan berkata, “Dunia, sentuhlah aku, dan aku akan menunjukkan padamu kehebatanku!”



Tak seperti bintang di langit

Tak seperti indah pelangi

Karena diriku bukanlah mereka

Aku apa adanya



Menjadi diriku

dengan segala kekurangan

Menjadi diriku

atas kelebihanku

Syair di atas menunjukkan kegundahanku saat ini. Aku sedang berusaha untuk memotivasi diriku agar percaya diri dengan diriku saat ini. Ya, aku sedang krisis kepercayaan diri. Bukan karena aku jelek, kawan. Tetapi saat ini, begitu banyak orang-orang fantastis di sekitarku. Orang-orang yang baru kusadari mempunyai sebuah potensi untuk memberikan pengaruh pada dunia. Jika diibaratkan dalam permainan catur, mereka seperti raja, ratu, menteri, benteng, atau mungkin kuda. Sedangkan aku, adalah aku. Semut kecil hitam yang sedang berjalan di atas papan catur itu, berusaha untuk mengerti sedang apa makhluk-makhluk itu, berusaha untuk menjadi sebesar mereka dan seperti mereka untuk dapat mengubah arah permainan.


Syair di atas adalah lirik sebuah lagu indah yang dibawakan sangat menawan oleh edCoustic. Dimana-mana aku mendengarkannya. Saat mengendarai motor, saat membaca buku, saat berkutat dengan mekanika, saat memakai baju, saat makan, saat mengetik di depan komputer, saat stress, saat senang, saat bermain, dan di setiap saat. Hingga aku mengerti suatu hal dan mengingat hal yang lain.


Ternyata, semut tidak usah menjadi seperti raja, atau kuda, atau ratu. Dia tidak usah menjadi sebesar mereka, karena suatu saat, jika terus menerus memperhatikan mereka, berusaha untuk mengerti mereka, walaupun dengan waktu yang lama, semut akan mengerti alur permainan. Tentu saja tidak dengan sendirinya, butuh sesuatu yang mengatur, yang menakdirkan semua terjadi. Sesuatu yang maha, yang paling, yang menguasai. ALLAH SWT. Semut sudah berusaha, dan yang menciptakannya yang akan menentukan kelanjutan cerita usaha semut. Pernah kudengar sebuah ungkapan, 'Kepakan sayap kupu-kupu di Cina, sekecil apapun itu, bisa menjadi topan besar di Amerika'.


Kuingat lagi satu hal. Kuingat teman masa kecilku yang sangat bangga akan kelebihannya. Tak pernah malu dengan kekurangannya. Dan akan selalu berusaha untuk lebih baik. Akankah kita berjumpa lagi, Putri?


Rabu, 08 Oktober 2008

Horror Story

Sudah pernah kukatakan pada Anda bahwa dulu desa tempat tinggalku adalah desa yang menakutkan, setidaknya menurut kacamataku sebagai seorang anak kecil. Apalagi, rumahku dikelilingi oleh banyak kuburan nenek moyangku. Rumahku itu menghadap ke Selatan, tepat di depannya adalah kuburan, di samping kiri juga kuburan, dan di belakang, diselangi sebuah tanah lapang juga ada kuburan. Sampai sekarang, jika aku keluar di malam hari untuk membeli sesuatu, aku masih merasa merinding. Bukannya berlebihan kawan, dulu aku adalah seorang anak yang sangat penakut.

Citra desaku yang seperti itulah yang membuat anak lucu sepertiku ketakutan. Jika malam tiba, semua suara-suara di luar rumah terasa seperti berasal dari dunia lain. Lolongan anjing, erangan kucing yang sedang hamil dan kelaparan, siulan daun-daun yang tertiup angin, langkah kaki orang-orang yang lewat di depan rumah, jangkrik yang memekik, tetesan air hujan, kepakan sayap kelelawar, dan rengekan-rengekan kodok mencari istri semuanya terdengar seperti orkestra yang dibawakan oleh hantu-hantu penunggu kuburan di sekeliling rumahku. Semua itu membuat aku sangat sulit untuk tidur, hingga aku memaksa untuk tidur bersama kedua orang tuaku sampai aku menginjak usia belasan.

Aku tak tahu tepatnya kapan. Yang aku ingat adalah aku masih SD ketika itu. Teriakan-teriakan, baik orang dewasa maupun anak kecil terdengar ribut. Aku segera keluar rumah dan menanyakan apa yang terjadi pada temanku. Bulu kudukku merinding saat dia bilang telah ditemukan dua ekor tuyul di kuburan belakang rumahku. Hah! Benar 'kan yang aku rasakan selama ini bahwa kuburan-kuburan itu mengandung misteri yang belum terpetakan. Walaupun takut, aku berlari mengikuti mereka, hendak melihat selebriti horror kampungku, sang artis baru, dua ekor tuyul di belakang rumahku.

Sesampainya di sana, aku berusaha untuk melihat tuyul-tuyul itu, tetapi nihil. Aku tanya kepada teman-teman masa kecilku, dan mereka berkata bahwa mereka bisa melihatnya. Apa yang terjadi? Selebriti itu tak dapat kulihat. Bohongkah mereka? Atau karena usiaku yang sudah dewasa, jadi aku tak dapat melihat hal-hal gaib. Setahuku waktu itu, hal-hal seperti itu hanya dapat dilihat oleh anak-anak kecil yang masih imut dan polos. Tetapi aku tak peduli dan tetap percaya tentang tuyul-tuyul itu. Pengalaman itu semakin menambah dalam ketakutan dalam hatiku. Beberapa hari kemudian, kudengar bahwa selebriti kampungku itu telah diambil kembali oleh majikannya dan dikembalikan ke tempat asalnya, jauh di Subang sana.

Namun, semakin dalam rasa takutku, semakin suka aku terhadap cerita-cerita hantu seperti itu. Entah mengapa, mungkin aku hampir gila dikuliti oleh ketakutan semu terhadap hantu. Aku sangat suka membaca cerita misteri, atau sekedar menonton film horror dan reality show tentang hantu di tivi. Hingga akhirnya, aku menemukan keberanian tersembunyi di dalam diriku.

Aku masuk ke SMP 2 Bandung, sebuah SMP ternama di kota ini. Ada sebuah organisasi asing di benakku saat masuk ke sana. KRM. Keluarga Remaja Mesjid. Ternyata itu adalah semacam organisasi pengurus mesjid. Aku tertarik dan bergabung dengannya. KRM sering mengadakan acara-acara pembinaan untuk kami, para anggotanya, seperti mentoring dan mabit di sekolah. Dari sinilah, pikiranku tentang hantu-hantu yang menakutkan akhirnya tersisihkan sedikit demi sedikit. Saat kelas dua, aku bahkan berani untuk mengelilingi sekolah sendirian, padahal sekolahku terkenal angker. Di KRM, aku menemukan keberanian itu, tetapi memunculkan ketakutan baru. Ketakutan yang terasa sangat damai, membuat aku merasa tenang sekaligus enggan untuk berbuat dosa. Walaupun ketakutan itu timbul tenggelam, tetapi aku berusaha mempertahankannya dan menambahnya dengan rasa cinta.

Itulah ketakutan yang seharusnya kumiliki. Rasa cinta yang harusnya kumiliki.
Itulah ketakutan yang seharusnya kita miliki. Rasa cinta yang harusnya kita miliki.

Takut pada-Nya.
Takut pada ALLAH swt.
Cinta pada ALLAH swt.


Selasa, 12 Agustus 2008

Antara Eropa dan Afrika

Namanya Ciwaruga. Aku tak pernah tahu mengapa daerah ini dinamakan seperti itu. Begitu banyak nama tempat di Jawa Barat yang dinamakan dengan awalan ci. Lalu, apa arti dari waruga? Entahlah, aku tidak punya alasan yang kuat untuk sekedar mencari arti dari nama itu, padahal di lain waktu, aku akan membutuhkannya.



Jalan utamanya sudah keropos seperti gigi nenek buyutku karena beban yang tiap hari ditimpakan oleh mobil-mobil besar yang lewat. Sebagian dikarenakan oleh pembangunan yang seenaknya. Orang-orang kota yang membangun villa di desa ini membuang air sisa membangun rumah ke jalan, sehingga menggerogoti jalan itu. Padahal, beberapa tahun lalu, jalan desaku ini telah mencicipi rasanya aspal hotmix. Aku sangat bangga saat itu.



Saat musim kemarau tiba, debu beterbangan tertiup angin, membuat udara sangat panas dan kotor. Rumah-rumah di pinggir jalan terkena imbasnya. Hampir setiap hari para ibu dan para babu kerepotan membersihkan debu dan tanah halus dari lantai dan tembok rumah mereka. Di lain waktu, saat musim hujan datang dan menyerbu, selokan-selokan menumpahkan segala isinya. Air hujan dan selokan menggenangi jalan, menambah penderitaan jalan utama yang kusayangi. Miris hatiku melihat lubang-lubang yang menganga hampir di setiap bagian tubuhnya.



Milenium baru adalah momen kebangkitan desaku. Dimulai dari pembangunan perumahan elit Pondok Hijau Indah di timur laut. Beberapa tahun kemudian, berbagai perumahan elit lainnya menyusul menghiasi sudut-sudut konvensional Ciwaruga. Pembangunan perumahan-perumahan itu tentu saja mengorbankan banyak hal. Dulu desa ini penuh dengan lahan pertanian palawija, dari ujung utara, sampai ujung paling selatan. Hampir semua warganya menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Waktu kecil, aku sampai hafal kapan petani menanam bunga kol, jagung, atau bahkan padi. Kadang-kadang, aku sampai sengaja pergi ke ladang untuk bertani bersama kakek dan nenekku. Pulangnya, aku membawa sekantong kecil biji jagung yang kuminta dari nenek untuk ditanam di rumah. Padahal, tanpa aku ketahui, itu adalah biji sisa yang sudah tidak bisa ditanam lagi.



Dulu, udara di desa ini cukup dingin. Cukup untuk membuat tubuh menggigil saat adzan subuh berkumandang, membuat orang malas untuk menunaikan ibadah shalat. Aku salah satunya. Pantang bagiku untuk bangun dinihari karena udara yang sangat menggigit. Selimut kutarik sampai menutupi kepala, lalu kupeluk guling dan bantal dengan erat. Ibuku sampai capek memarahiku karena hal itu. Sepupu-sepupuku dari Padalarang yang hampir setiap liburan menginap di rumahku sepakat denganku tentang udara di desaku ini. Sering kutengok apa saja isi tas mereka, dan pasti kutemukan sebuah jaket atau sweater di dalamnya. Saat mereka sampai di rumah, sambil tertawa, mereka mengatakan, "Rumahmu ini sangat jauh, Dan. Jalannya kadang nanjak dan mudun. Aku sampai mual di jalan tadi."



Umurku tak lebih dari 3 tahun saat pertama kali menginjakkan kaki di desa ini. Yang kuingat dari peristiwa itu hanya satu, yaitu truk yag dipakai saat pindah waktu itu sangatlah besar. Aku merasa seperti sedang mendaki tebing saat masuk ke kursi depan truk. Sebelum pindah, aku adalah bayi warga Padalarang, sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung yang kurasa mendapatkan iklim yang cukup 'hangat'. Yang pertama kali kurasakan saat pertama tiba di Ciwaruga adalah kesepian, beraroma mistis, dan ketakutan. Perasaan terakhir ini aku dapatkan karena saat itu Ciwaruga dipenuhi oleh kebun dan ladang, yang saat malam terasa mencekam, dihiasi oleh suara-suara binatang. Aku sangat takut dan sampai kira-kira kelas 4 SD, aku masih tidur bersama dengan ayah dan ibu.

Jika anda lihat di peta, desaku ini seperti sebuah desa di peradaban zaman dahulu, yang terpusat di aliran sungai. Tetapi, yang menjadi pusat di desaku bukanlah aliran sungai. Jalan utama yang kusayanglah yang merupakan pusat dari perumahan. Itulah sebabnya aku menyayangi jalan utama ini. Bayangkan, jika tak ada jalan ini, mungkin desaku akan terisolir dari dunia luar. Tak aka kudapatkan akses internet untuk mengerjakan tugas Biologiku. Tak akan kudapatkan buku-buku yang membahas kalkulus dan trigonometri. Tak akan ada Dan yang sekolah di SMA 3.

Desa Ciwaruga terletak tepat di perbatasan kota dan kabupaten Bandung. Dapat terbayangkan pengaruh yang ditimbulkan oleh letak yang strategis ini. Mungkin sedikit mirip dengan letak Indonesia diantara Australia dan Asia. Kota memberikan pengaruh yang sangat modern, sedangkan kabupaten mempertahankan sifat-sifat konvensional.

Eropa dan Afrika. Keduanya dipisahkan oleh laut Mediterania. Itulah desaku. Itulah Ciwaruga. Masih banyak yang patut kuceritakan tentang desa kecil ini. Masih banyak juga misteri yang tersimpan di dalam tanahnya yang subur. Kan kuungkapkan kepada Anda nanti saat waktunya telah tiba.